Renungan Untuk Para Orangtua: Papa, Kembalikan Tangan Ita :

Utk beberapa orang tua yang anaknya kreatif, jangan sampai lagi dipukul ya.. Tolong baca cerita fakta yang menyentuh hati ini, narasi mengenai seseorang anak kecil bernama Ita yang memohon pada papanya untuk kembalikan tangannya.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAmwksDC9hk6_pghWuyWvov36zTBNDK4JNWJnK_GLCG1LEyGC3Ypbay4043URlKnv5Cihco7bCf6lGWLTE9jlq07Tt_FhOGnA-J-6fpSCiTPtMs5gvRJxzYPq4jCtVcdVhOIws7AlV_Ww/s640/1456477574339.jpg

Sebagai orang tua kita pantas membatasi perbuatan pasangan untuk memukul sang buah hati. Teristimewa pada anak-anak yang masih tetap kecil serta tidak tahu apa-apa.


Menghajar serta berikan evaluasi melalui langkah memukul bukan langkah paling baik. Inilah cerita riil itu :

Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah saat mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, wanita berusia tiga 1/2 th.. Sendirian di rumah, dia kerap dibiarkan pembantunya yang repot bekerja.

Dia bermain di luar rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun diatas ayunan yang dibeli papanya, atau pun menuai bunga matahari, bunga kertas dan seterusnya di halaman tempat tinggalnya.

Satu hari dia lihat sebatang paku karat. Dia juga mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan namun dikarenakan lantainya terbuat dari marmer, coretan tak terlihat. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya… dikarenakan mobil itu berwarna putih, coretannya kelihatan terang. Apa lagi kanak-kanak ini juga bikin coretan sama sesuai kreativitasnya.

Hari itu ayah serta ibunya mengendarai motor ke tempat kerja lantaran jalan macet. Sehabis sang anak mencoret penuh segi yang sisi kanan dia berpindah ke samping kiri mobil. Dibuatnya gambar ayam serta gambarnya sendiri dsb untuk ikuti imaginasinya. Peristiwa itu berlangsung tanpa ada diakui si pembantu tempat tinggal.

Pulang petang itu, terkejutlah bapak ibunya lihat mobil yang baru satu tahun dibeli dengan cicilan. Si ayah yang belum lagi masuk ke tempat tinggal ini juga selalu menjerit, ‘Kerjaan siapa ini? ’ Pembantu tempat tinggal yang tersentak dengan jeritan itu lari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih-lebih lihat muka bengis tuannya.

Sekali lagi diserahkan pertanyaan keras padanya, dia selalu menyampaikan ‘Tak tahu…! ’ ‘Kamu di rumah selama seharian, apa sajakah yg kau kerjakan? ’ hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar nada ayahnya, mendadak lari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata ‘Ita yg bikin itu papa…. cantik kan! ’ tuturnya sembari memeluk papanya pingin bermanja seperti umum. Si bapak yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, selalu dipukulkannya berulang-kali ke telapak tangan anaknya.

Si anak yang tidak tahu apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekalian ketakutan. Senang memukul telapak tangan, si bapak memukul juga belakang tangan anaknya. Si ibu hanya mendiamkan saja, seakan merestui serta terasa senang dengan hukuman yang dipakai. Pembantu rumah terbengong, tidak mengerti mesti berbuat apa? Si ayah cukup keras memukul-mukul tangan kanan serta lalu tangan kiri


anaknya.

Sesudah si ayah masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu tempat tinggal menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Diliatnya telapak tangan serta belakang tangan si anak kecil luka-luka serta berdarah. Pembantu tempat tinggal memandikan anak kecil itu. Sembari menyiram air sembari dia turut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan waktu luka-lukanya itu terserang air. Si pembantu tempat tinggal lalu menidurkan anak kecil itu. Si ayah berniat membiarkan anak itu tidur berbarengan pembantu rumah.

Keesokkan harinya, ke dua iris tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. ‘Oleskan obat saja! ’ jawab tuannya, ayah si anak. Pulang dari kerja, dia tak memerhatikan anak kecil itu yang menghabiskan saat di kamar pembantu. Si ayah konon ingin mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si bapak tak pernah menjenguk anaknya sesaat si ibu juga demikian namun sehari-hari ajukan pertanyaan pada pembantu rumah. ‘Ita demam…’ jawab pembantunya ringkas.

‘Kasih minum obat penurun panas, ’ jawab si ibu.

Saat sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Waktu diliat anaknya Ita dalam pelukan pembantu tempat tinggal, dia tutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari ke empat, pembantu tempat tinggal menginformasikan tuannya kalau suhu tubuh Ita sangat panas. ‘Sore kelak kita bawa ke klinik’ kata majikannya itu. Hingga waktunya si anak yang telah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke tempat tinggal sakit lantaran kondisinya serius. Sesudah satu minggu di rawat inap dokter memanggil ayah serta ibu anak itu.

‘Tidak ada pilihan.. ’ tuturnya yang mengusulkan supaya ke-2 tangan anak itu diamputasi lantaran gangren yang berjalan telah sangat kronis.

‘Tangannya telah bernanah, buat menyelamatkan nyawanya ke-2 tangannya butuh dipotong dari siku ke bawah’ kata dokter.

Si ayah serta ibu seperti terkena halilintar mendengar kalimat itu. Merasa dunia berhenti berputar, tetapi apa yang bisa disebutkan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati serta lelehan air mata isterinya, si ayah terketar-ketar di tandatangani surat kesepakatan pembedahan.

Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran lihat ke-2 tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka bapak serta ibunya. Lalu ke muka pembantu tempat tinggal. Dia mengernyitkan dahi lihat mereka seluruh menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bertemura dalam linangan air mata.

‘Papa.. Mama… Ita akan tidak melaksanakannya lagi. Ita tidak ingin dipukul ayah. Ita tidak ingin jahat. Ita sayang ayah.. sayang ibu. ’ tuturnya berkali-kali membikinkan si ibu tidak sukses menahan rasa sedihnya.

‘Ita juga sayang Kak Narti.. ’ tuturnya memandang muka pembantu tempat tinggal, sekalian membikinkan gadis itu meraung histeris.

‘Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa di ambil.. Ita janji tidak bakal mengulanginya lagi! Bagaimana langkahnya Ita ingin makan kelak? Bagaimana Ita ingin bermain kelak? Ita janji tdk bakal mencoret-coret mobil lagi, ’ tuturnya berkali-kali.

Terasanya copot jantung si ibu mendengar kalimat anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati tetapi takdir yang telah terjadi, tdk ada manusia bisa menahannya.

Pelajaran yang begitu miliki nilai buat banyak orangtua, anak nakal itu umum, bila anak kecil terluka, berilah perhatian sendiri pada anak serta jangan sampai tergantung pada pembantu. dikarenakan mereka sejatinya cuma menolong. Pekerjaan paling utama mendidik anak ada di tangan anda!!!

Sumber : beradab
Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Renungan Untuk Para Orangtua: Papa, Kembalikan Tangan Ita :"